Jakarta || Gemilangbuana.com-Journalisme berkualitas adalah pilar utama dalam menjaga stabilitas dan integritas sebuah bangsa, terutama di tengah situasi yang rentan seperti demonstrasi. Dalam konteks ini, Ketua Umum Jajaran Wartawan Indonesia (JWI), Ramadhan Djamil, menyerukan imbauan krusial kepada para pimpinan media massa dan seluruh wartawannya. Seruannya bukan hanya sebuah nasihat, melainkan sebuah penekanan serius terhadap tanggung jawab media dalam menghadapi gejolak sosial dan politik.
Ramadhan Djamil mengajak seluruh insan pers yang tergabung dalam JWI untuk bijak dalam menyaring informasi dan menjauhi praktik penyebaran berita berita palsu atau hoaks. Lebih jauh, ia menekankan pentingnya menjaga persatuan bangsa sebagai prioritas utama di atas segala kepentingan pemberitaan.
Ancaman Hoaks di Tengah Gejolak Demokrasi
Dalam situasi demonstrasi, arus informasi seringkali menjadi sangat deras dan sulit dikendalikan. Inilah celah di mana hoax dan disinformasi dapat berkembang biak dengan cepat, memicu kepanikan, ketidakpercayaan, bahkan perpecahan di kalangan masyarakat. Ramadhan Djamil secara tegas mengingatkan, “Jajaran Wartawan Indonesia (JWI) mengajak para pimpinan media maupun wartawannya… agar dalam situasi demo ini menyaring dan jangan menaikkan berita berita hoaks. Jaga persatuan dan kesatuan bangsa.”
Pernyataan ini menggarisbawahi betapa berbahayanya informasi yang tidak terverifikasi. Berita bohong dapat dengan mudah memanipulasi opini publik, mengipasi api konflik, dan bahkan mengikis fondasi demokrasi. Oleh karena itu, kemampuan untuk memfilter dan menolak penyebaran hoaks bukan lagi sekadar etika, melainkan sebuah keharusan demi kelangsungan harmoni sosial. Tantangan terbesar bagi jurnalis saat ini bukan hanya mencari berita, tetapi juga memverifikasi kebenarannya di tengah gempuran informasi yang serba cepat.
Pemberitaan Akurat dan Bertanggung Jawab: Sebuah Keharusan
Inti dari profesi jurnalisme adalah menyajikan kebenaran yang dapat dipertanggungjawabkan. Ramadhan Djamil menegaskan, “Pemberitaan dari kita orang media harus memberitakan yang benar dan bisa dipertanggung jawabkan.” Ini berarti setiap narasi, fakta, atau data yang disajikan kepada publik harus melalui proses verifikasi yang ketat, dikonfirmasi dari berbagai sumber terpercaya, dan bebas dari bias.
Sebagai contoh konkret, Ramadhan Djamil menyebutkan berita palsu mengenai pengunduran diri Menteri Keuangan Sri Mulyani. Berita semacam ini, jika tidak disaring dan malah dinaikkan, dapat menciptakan kegaduhan di pasar finansial, merusak kepercayaan publik terhadap pemerintah, dan memicu spekulasi yang tidak perlu. Ini adalah bentuk hoaks yang sangat merugikan dan membuktikan betapa krusialnya peran jurnalis dalam menjaga integritas informasi. Etika jurnalistik menuntut setiap insan pers untuk selalu memprioritaskan akurasi dan keabsahan berita, serta menolak keras segala bentuk manipulasi informasi.
Peran Vital Jurnalis sebagai Penjaga Pilar Kebenaran
Dalam situasi demo yang seringkali diwarnai ketegangan dan ketidakpastian, peran jurnalis menjadi sangat vital. Mereka adalah mata dan telinga masyarakat, saluran informasi yang seharusnya objektif dan terpercaya. “Peran dari pada jurnalis sangat diperlukan dalam pemberitaan menghadapi situasi demo seperti ini,” pungkas Ramadhan Djamil.
Jurnalis bukan sekadar pencatat peristiwa, melainkan juga penjaga pilar kebenaran dan keadilan. Dengan menyajikan fakta yang utuh dan berimbang, jurnalis dapat membantu masyarakat membentuk opini yang informatif dan rasional, bukan berdasarkan desas desus atau provokasi. Ini adalah bentuk kontribusi nyata terhadap pemeliharaan persatuan dan kesatuan bangsa. Ketika media mampu menyajikan berita yang benar dan bertanggung jawab, mereka turut membangun kepercayaan publik dan memperkuat sendi sendi demokrasi.
Seruan Ketua Umum Jajaran Wartawan Indonesia, Ramadhan Djamil, adalah pengingat penting bagi seluruh insan pers di Indonesia. Di tengah gejolak demonstrasi dan banjir informasi, komitmen terhadap anti hoax, etika jurnalistik, dan tanggung jawab media untuk memberitakan yang benar dan bisa dipertanggungjawabkan adalah kunci. Hanya dengan cara inilah jurnalisme berkualitas dapat berperan maksimal dalam menjaga persatuan bangsa dan mengawal demokrasi dari ancaman disinformasi.
SRDJ
Leave a Reply