DI BALIK SERAGAM LORENG: MENGUJI ARAH BARU PEMUDA PANCASILA KARAWANG

Karawang || gemilangbuana.com – bukan sekadar kota industri dengan deru mesin yang tak pernah mati.

‎Di balik riuh pabrik dan hamparan sawah yang kian terhimpit, ada dinamika sosial yang butuh pengawalan. Sabtu (20/12), di salah satu sudut ruang pertemuan Brits Hotel, sebuah ormas besar sedang berkumpul. Bukan sekadar berkumpul untuk unjuk kekuatan, tapi mengklaim sedang merajut masa depan.

‎​Majelis Pimpinan Cabang (MPC) Pemuda Pancasila Kabupaten Karawang menggelar Rapat Koordinasi.

‎Sebuah agenda yang biasanya kaku dengan formalitas, namun kali ini memikul beban ekspektasi: Akan dibawa ke mana energi besar ini untuk kebermanfaatan rakyat Karawang?
‎​Bukan Sekadar Baris-Berbaris
‎​Kehadiran tokoh-tokoh sentral seperti Ketua MPC Abdul Aziz, SE,menunjukkan bahwa ini adalah meja serius.

‎Bahkan, restu dari Sekretaris MPW Jawa Barat, H. Arif Rahman, SH, menegaskan bahwa Karawang adalah titik krusial dalam peta pergerakan Jawa Barat.

‎​Namun, masyarakat seringkali bertanya dengan skeptis: Apa artinya rapat koordinasi bagi perut yang lapar atau bagi keadilan yang kerap terpinggirkan?
‎​Ketua MPC, Abdul Aziz, menjawabnya dengan retorika yang tenang namun tegas.

‎”Rapat koordinasi ini bukan hanya soal menyusun agenda, tapi juga konsolidasi kekuatan untuk menghadapi tantangan sosial dan kebangsaan ke depan,” ujarnya.

‎Pernyataan ini melempar sinyal bahwa Pemuda Pancasila Karawang ingin bertransformasi—dari sekadar organisasi massa menjadi mitra strategis yang solutif.

‎​Menjaga Marwah, Mengawal Daerah
‎​Komitmen yang diikrarkan adalah “menjaga marwah”. Dalam bahasa yang lebih membumi, ini berarti memastikan bahwa seragam loreng oranye tidak lagi identik dengan ketakutan, melainkan menjadi simbol perlindungan.

‎​Ada tiga pilar yang ditekankan dalam pertemuan tersebut:
‎​Soliditas Internal: Membersihkan rumah tangga organisasi agar tetap satu komando.
‎​Sinergi Pemerintah: Menjadi mitra kritis sekaligus pendukung pembangunan daerah.

‎​Akar Rumput: Mendengar aspirasi hingga tingkat basis, bukan hanya instruksi dari atas meja hotel.
‎​Catatan Penutup: Menunggu Bukti di Lapangan
‎​Menulis program kerja tahun 2026 di atas kertas adalah perkara mudah.

‎Namun, menjaga nilai Pancasila di tengah gempuran pragmatisme adalah ujian sesungguhnya. Rakyat Karawang tidak butuh janji manis di ruang berpendingin udara; mereka butuh aksi nyata saat konflik agraria muncul, saat lapangan kerja sulit diakses, atau saat ketidakadilan menimpa warga kecil.

‎​Kita menghargai langkah konsolidasi ini sebagai niat baik. Tapi, sejarah selalu mencatat: Besar kecilnya sebuah organisasi tidak diukur dari seberapa megah rapat koordinasinya, melainkan seberapa besar manfaat yang dirasakan masyarakat saat mereka sedang kesulitan.

‎​Pemuda Pancasila Karawang telah mengetuk palu. Kini, publik menunggu: Apakah sinergi ini akan menjadi pelindung bagi yang lemah, atau sekadar menjadi stempel bagi kekuasaan?
‎​Karena pada akhirnya, Pancasila bukan sekadar hafalan, tapi tindakan.

*Edi (edoy)*

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *