Di Balik Jalan Santai, Ada Asa yang Menapak di Karawang

Karawang || Gemilang.com – Di antara hingar-bingar perayaan kemerdekaan dan kibaran bendera merah putih, ada makna yang lebih dalam dari sekadar pesta rakyat. Kemerdekaan adalah perjumpaan, saling sapa, saling tatap, dan saling menggerakkan. Itulah yang begitu terasa di Dusun Sentul Babakan Kaum, ketika warga tumpah ruah mengikuti Jalan Santai Gebyar HUT RI ke-80 yang digelar Yayasan Istiqomah.

Jalan santai ini bukan hanya tentang langkah kaki yang menapak aspal, melainkan sebuah parade kebersamaan. Di bawah komando Abdu Taufiqqurrahman—nama yang kini ramai diperbincangkan sebagai calon Kepala Desa Cikampek Selatan—acara ini menjadi lebih dari sekadar olahraga. Ia adalah ruang untuk menumbuhkan asa dan merawat kebersamaan di tanah Karawang.

Di tengah rutinitas yang sering membuat orang lupa menyapa tetangga, kegiatan ini menjadi pase. Warga dari berbagai usia berjalan bersama, mengelilingi dusun, sambil berbagi tawa dan cerita. Mereka yang biasanya hanya berpapasan di jalan kini merasa lebih dekat sebagai sebuah keluarga besar.

“Alhamdulillah, kegiatan ini berjalan lancar. Semoga dengan semangat kemerdekaan, kita bisa terus menjaga kebersamaan dan meningkatkan rasa peduli antar sesama,” ujar Abdu Taufiqqurrahman. Ucapan itu mengalir bukan sekadar formalitas, melainkan harapan tulus untuk melihat desanya semakin maju.

Kebahagiaan warga pun tak terbantahkan. Jamal Tholib, salah seorang peserta, mengaku sangat menikmati momen tersebut. “Seru sekali, apalagi bisa ikut bersama keluarga. Selain sehat, anak-anak juga gembira karena banyak hadiah,” katanya. Hadiah-hadiah itu mungkin sederhana, namun tawa dan binar mata anak-anak menjadi bukti kebahagiaan yang tak ternilai.

Di balik kemeriahan, kerja keras panitia juga patut diapresiasi. Wandi, salah satu panitia pelaksana, menegaskan bahwa kegiatan ini adalah buah nyata dari semangat gotong royong. “Kami berharap acara ini bisa menjadi agenda rutin setiap tahun, agar semangat kebersamaan dan kekompakan warga terus terjaga,” ujarnya.

Gotong royong sebuah nilai yang kadang dianggap kuno nyatanya masih hidup di Dusun Sentul Babakan Kaum. Ia hadir dalam irama angklung yang mengiringi langkah peserta, dalam senyum yang mengembang, dan dalam tawa yang pecah di sepanjang rute.

Pada akhirnya, kemerdekaan bukan hanya perayaan masa lalu, tetapi juga ikhtiar membangun masa depan. Warga Dusun Sentul Babakan Kaum membuktikan bahwa kebersamaan, kepedulian, dan gotong royong adalah tiang kokoh yang membuat desa, bahkan bangsa, berdiri tegak. Mereka tidak hanya merayakan 80 tahun kemerdekaan, tetapi juga sedang menanam benih persatuan untuk tahun-tahun mendatang.

**Edi(edoy)**

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *