LINGKARAN SETAN ARISAN: SAAT KEPERCAYAAN MENJADI BARANG DAGANGAN

Karawang//gemilangbuana.com – Di sela-sela gang sempit Dusun II Kebon Kelapa, Kota Pohaci, Ciampel, sebuah drama kolosal tentang hilangnya integritas sedang dipentaskan

‎Bukan oleh aktor panggung, melainkan oleh seorang oknum yang tega menukar kepercayaan tetangga dengan tumpukan rupiah yang dibawa lari.

‎​Arisan yang seharusnya menjadi jaring pengaman sosial dan simbol gotong royong warga Karawang,kini justru berubah wajah menjadi jerat yang mencekik leher.

‎Nama Suci Susilawati pemilik sebuah pusat perdagangan suci ollshop kini menjadi buah bibir, bukan karena prestasi, melainkan karena dugaan raibnya dana puluhan warga yang ia himpun melalui jalur daring maupun luring.

‎​Angka yang Menjadi Air Mata
‎​Bagi sebagian orang, angka 2M mungkin sekadar deretan digit di atas kertas. Namun bagi sederetan ibu lainnya di Karawang, itu adalah nominal yang dikumpulkan dari sisa uang belanja, modal usaha yang dipaksakan, atau tabungan masa depan yang kini menguap tanpa jejak.

‎​Mari kita bedah datanya. Untuk kategori Get puluhan juta, daftar korban sudah berderet panjang

‎​Total kerugian dari beberapa kelompok ini saja sudah menembus angka milyaran rupiah. Dan ironisnya, ini barulah puncak gunung es dari dugaan penipuan yang lebih besar.

‎​Menggali Luka Masyarakat Karawang
‎​Mengapa fenomena ini terus berulang di bumi Pangkal Perjuangan? Karena pelaku paham betul cara mengeksploitasi celah psikologis: keinginan untuk mandiri secara ekonomi dalam waktu instan.

‎Namun, ketika pengelola arisan memutuskan untuk “menghilang”, yang tertinggal hanyalah puing-puing kepercayaan yang hancur.

‎​Kasus di Ciampel ini bukan sekadar urusan privat antar-warga. Ini adalah alarm keras bagi perlindungan konsumen dan pengawasan sosial di tingkat desa.

‎Karawang tidak boleh menjadi ladang subur bagi para pemangsa uang rakyat kecil yang berlindung di balik kedok arisan.

‎Kini warga yang ikut serta dalam arisan menuntut Tanggung Jawab
‎​Hukum di Indonesia memang mengenal azas praduga tak bersalah, namun keadilan tidak boleh dibiarkan tertidur.

‎Uang yang dibawa lari bukan sekadar nominal, tapi ada harapan keluarga di dalamnya.

‎*Edi(edoy)*

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *